Sabtu, 05 Maret 2016

My Pregnancy Journey : Part 3




Hellow...
Selamat datang bulan Maret.. bulannya aku... hehehehe....

Hari ini bukan mau cerita detil soal kehamilan seperti yang sudah ditulis di post sebelumnya, tulisan ini lebih lebih saya tujukan kepada pasangan hidup saya, calon papa bagi anak saya, hehehe...

Seperti yang saya bilang bahwa saya harus berjuang ekstra untuk kehamilan ini, apalagi diawal-awal, terlalu banyak drama dan ketakutan yang terjadi, mulai dari masa-masa mual diawal kehamilan, ditemukannya kista yang besar dan harus diangkat pada saat kehamilan menginjak 17w, tetapi perjuangan ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, saya bersyukur walaupun awal perjalanan kehamilan sampai sekarang ini lumayan berat buat saya, tapi saya tidak sendiri. Saya punya suami yang luar biasa bagi saya, secara fisik mungkin dia tidak merasakan seperti yang saya rasakan, tetapi secara batin saya tau dia mengalami hal yang tidak mudah untuk dilewatinya.

Ketika saya merasa down pada masa awal kehamilan dan pada saat ditemukannya kista sampai pada tahap operasi, saya masih punya suami yang menopang saya, yang menguatkan saya, yang melakukan apa saja untuk kebaikan saya dan calon anak kami, padahal saya juga sadar, bahwa hal ini pun bukan hal yang mudah untuk dilaluinya, tetapi dia berhasil membuat saya bangkit, membuat saya semangat lagi, membuat saya mampu melewati masa-masa berat itu.




Suami saya memang tidak merasakan mual dan muntah parah yang saya rasakan sewaktu awal kehamilan kemarin, tetapi dia selalu siap siaga untuk memberikan asupan terbaik bagi saya, apa saja keinginan saya yang kadang tidak masuk diakal berusaha diwujudkannya supaya saya merasa lebih baik, dia tidak segan membantu pekerjaan rumah kami, memijat badan, ataupun tetap terjaga, pada saat saya merasakan mual dan muntah saya semakin parah sampai saya tidak bisa meninggalkan tempat tidur.

Suami saya memang tidak merasakan sakitnya proses sebelum, pada saat, dan sesudah operasi pengangkatan kista, tetapi dia berusaha mengurangi rasa sakit saya dengan memberikan obat terbaik pengurang rasa sakit bagi saya, memberikan asupan terbaik agar badan saya cepat pulih, 24 jam siaga disamping saya, dan benar-benar telaten mengurusi saya sampai saya merasa benar-benar pulih dari operasi tersebut.

Suami saya memang tidak merasakan manfaat dari makanan bergizi dan segala vitamin yang diberikan dokter bagi saya untuk kesehatan calon anak kami, tetapi suami saya selalu berusaha memberikan semua asupan terbaik dan vitamin yang terbaik pula agar saya dan calon anak kami tetap sehat,a apaun itu asalkan yang terbaik bagi kesehatan saya dan calon anak kami, suami saya pasti akan berusaha selalu memberikannya.

Suami saya memang tidak merasakan apa yang saya rasakan seperti beratnya membawa perut yang semakin besar kemana-mana ditambah berat badan saya yang melonjak drastis semenjak kehamilan ini, tetapi dia berusaha mengerti setiap kemalasan yang ditimbulkan oleh badan saya yang semakin besar ini, suami saya dengan sabar menggandeng tangan saya, memegang tas saya, berjalan perlahan-lahan, dan melakukan segala hal untuk menyenangkan hati saya agar saya tidka terlau merasakan lelahnya membawa badan saya sendiri yang semakin besar ini.

Suami saya memang tidak merasakan bengkak di kaki maupun di tangan seperti yang saya alami pada saat kehamilan saya yang semakin besar ini, tetapi suami saya dengan kesadarannya sendiri tanpa saya minta begitu rajin memijat kaki, tangan, dan badan saya, supaya peredaran darah saya lancar, dnegan harapan bengkaknya bisa berkurang. Dan, ternyata bengkak-bengkak ditangan maupun kaki saya memang hilang, walaupun masih suka timbul pada waktu-waktu tertentu.

Suami saya memang tidak merasakan langsung pertumbuhan janin kami diperutnya, tetapi dia dengan rajinnya selalu mengajak ngobrol calon anak kami setiap hari, memberikan doa-doa terbaik, dan mengelus-elus perut saya, yang selalu direspon dengan gerakan dan tendangan calon anak kami dari perut saya. (Sekarang calon anak kami semakin rajin bergoyang didalam perut saya, hehehe)

Banyak hal lain yang mungkin tidak dialami langsung oleh suami saya seperti yang saya alami pada kehamilan ini, tetapi suami saya selalu bisa mengimbangi, suami saya selalu bisa membuat saya untuk kuat dalam menghadapi beratnya awal masa kehamilan saya begitupun operasi yang harus saya hadapi, suami saya selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi saya dan calon anak kami ini. Dia adalah suami terbaik yang saya miliki, rasanya saya tidka akan pernah berhenti untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena sudah memberikan teman hidup seperti dia.

Bagi saya, semua pujian yang saya berikan tidaklah berlebihan, walaupun saya tau mungkin banyak diluar sana yang mempunyai suami yang seperti itu juga, tetapi pujian ini datang karena rasa syukur saya yang begitu besar atas kehadiran suami saya didalam kehidupan saya.

Dan postingan ini dibuat, bukan hanya saya dedikasikan bagi suami saya, tapi siapa tau kelak anak kami akan membacanya, dan menyadari bahwa surga bukan hanya terletak ditelapak kaki mamanya saja, tetapi dikaki papanya juga, karena papanya begitu menyayangi dan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak kami ini. :)

I'm lucky to have him as my bestfriend for life.

I love you dear.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar