Kenapa tiba-tiba bisa muncul judul seperti itu?
Karena pas lagi cerita-cerita sama temen kantor, dan entah gimana tiba-tiba ngebahas soal domestic life temen-temen deket kita, malah kayak kesentil aja gitu, jaman sekarang dengan mudahnya orang nge-judge kehidupan orang lain apalagi yang tidak sesuai dengan paham yang dianut orang tersebut, bisa langsung keluar komentar-komentar sadis nan julid, padahal who are we to judge?
Semakin bertambahnya umur, dan bertambah panjangnya perjalanan hidup, semakin banyak pula cerita yang dilihat, didengar, dan diambil hikmahnya, baik dari kehidupan pribadi, keluarga, maupun temen terdekat, bahkan teman dari teman kita.
Kadang kalo saya suka flashback, ga nyangka aja kalo hidupnya si A/B/C bakalan kayak gitu, tapi reaksi saya palingan ohhh... gitu... dan respon sewajarnya aja, ga mesti yang terkaget-kaget juga (padahal kadang bikin saya ikutan miris juga) walopun tergelitik rasa penasaran ingin tahu alias kepo kok bisa sampai gitu, tapi ya ga sampai hati juga mau ngebahas lebih jauh dengan yang bersangkutan kalo yang bersangkutan aja kagak mau cerita, karena bisa saja mengungkit cerita hidupnya malah mendatangkan luka lama yang mungkin baru mau sembuh.
Semakin tua semakin disadarkan bahwa apapun bisa terjadi dalam hidup ini, jangan terlalu terlena dengan kenikmatan yang lagi dirasakan, dan jangan terlalu terpuruk dengan kesusahan yang sedang dihadapi.
Ada cerita si A/B/C yang terus berdoa & berikhtiar untuk menemukan pasangan hidup yang tepat, malah di-judge pemilih dan ada yang sampai hati berkata daripada jadi perawan tua, padahal.. who are we to judge?
Kita tidak tau seberapa kerasnya usaha mereka untuk mendapatkan pasangan hidup yang tepat, yang bisa jadi partner seumur hidup, bukan yang hanya "sekedar menikah" untuk memuaskan hasrat gosip sebagian orang.
Kita tidak tau seberapa resahnya hari-hari mereka menunggu dan mencari jodohnya, tapi dengan mudahnya kita menghakimi mereka sebagai pemilih, padahal.. who are we to judge?
Kita tidak tau segalau apa mereka melihat postingan teman-teman yang sudah berkeluarga dan seminder apa mereka dengan pertanyaan "kapan nyusul?", tapi banyak orang sudah kehilangan simpati & empatinya, lantas dengan mudahnya melukai perasaan orang lain, dan menganggap hidup sendiri paling sempurna, padahal.. who are we to judge?
Ada cerita si A/B/C yang sedang mengalami masalah rumah tangga, entah karena masalah komunikasi atau ekonomi, bahkan karena masalah orang ketiga (baik inlaws maupun orang ketiga) yang menyebabkan rumah tangga mereka jauh dari kata harmonis bahkan ada yang diambang perceraian, atau jikapun bertahan dalam status pernikahan tetapi masing-masing mencari kesenangan sendiri, dengan hal yang positif seperti fokus untuk mencari tambahan nafkah bagi keluarganya ataupun dengan hal yang negatif seperti menjalin hubungan terlarang dengan orang lain.
Lantas untuk pilihan terakhir orang tersebut, yaitu dengan mencari kesenangan dari menjalin hubungan terlarang dengan lawan jenis yang bukan suami/istrinya bisa dibenarkan? ya nggak dong, karena bagaimanapun ketika masih terikat status pernikahan sah dan telah berjanji dihadapan Tuhan untuk saling setia sampai maut memisahkan jelas-jelas perbuatan tersebut tidak dapat dibenarkan, tapi dengan begitu apa lantas kita berhak untuk menghakimi mereka yang memilih untuk menyalurkan hasrat ingin diperhatikan dan nafsu seksual mereka dengan yang bukan pasangan sah-nya? ya nggak juga donggg!
We never stand on their shoes, so.. we never know what the real story behind it.. apa yang mereka alami, apa yang mereka rasakan, dan apa penyebab mereka seperti itu, kita tidak pernah tau. Kita hanya tau dari luar bahwa secara kasat mata kita sebagai manusia, mereka telah melakikan perbuatan yang jelas salah dan melanggar norma agama, sosial & kesusilaan, tetapi kita tidak lantas memiliki hak untuk menghakimi mereka, karena.. who are we to judge?
Bahwa yang sebenar-benarnya memiliki hak untuk menghakimi hanya Tuhan yang maha segalanya. Bahwa apapun yang kita perbuat, baik dan buruk akan kita pertanggungjawabkan pada akhirnya, oleh diri kita sendiri, bukan orang lain.
Kita, cukup sebagai teman dan sahabat yang siap memberikan telinga untuk mendengarkan keluh kesah mereka, memberikan pundak sebagai sandaran ketika mereka butuh menangis, dan pelukan sebagai kekuatan ketika mereka merasa lemah.
Kita cukup memberikan nasihat sebagai sahabat, tanpa perlu menghakimi apalagi menganggap diri kita lebih suci dari mereka, karena kita ini seringkali lebih mampu melihat kekurangan dan kesalahan orang lain dibanding diri sendiri.
Karena..
Terkadang dibalik feed media sosial yang terlihat sempurna, terdapat hati yang terseok-seok untuk menutupi ketidaksempurnaan kehidupan mereka.
Terkadang dibalik ekonomi yang mapan, bisa saja ada hati yang kesepian karena kesibukan sendiri.
Terkadang dibalik wajah yang bahagia, mungkin ada resah yang melanda dan dihibur oleh tampilan baik-baik saja
Terkadang dibalik status pernikahan yang bertahan hingga hari ini, selalu ada alasan bertahan hanya karena anak, belum siap terhadap status janda/duda, atau sesimpel malas mengurus perceraian.
Terkadang dibalik rumah tangga yang bahagia pun, ada kalut yang tersimpan.
Walaupun diluaran sana pasti ada saja pecundang sebenarnya, yang mengkhianati kesetiaan keluarganya karena nafsu sesaat, ataupun pecundang yang berkedok mengingatkan namun terselip iri hati yang sebenarnya, tetap saja kita tidak mempunyak hak apapun untuk menghakimi, karena...
who are we to judge?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar