Tetiba mau cereita proses lahiran Sandra dimari, karena...
Nggak tau kenapa, mau sharing aja...
Emangnya nggak boleh? :p
Okelah, ceritanya dimulai dari...
Masuk bulan kesembilan kehamilan, cek kehamilan jadi lebih sering dari biasanya.
Biasanya ke dokter kandungan cukup satu kali dalam sebulan, nah dibulan kedelapan cek kandungan jadi dua minggu sekali, dan setelah masuk sembilan bulan jadi satu minggu sekali.
Satu minggu sebelum jadwal caesar (ya, saya sudah tau akan melahirkan caesar sejak memutuskan untuk operasi laparotomi kista saat usia kandungan 17 minggu), saya cek kembali ke dokter kandungan saya, dan didapati tensi darah saya lebih tinggi dari biasanya, 160/90 kalau tidak salah waktu itu. Saya disuruh untuk istirahat dan jangan stres, mereka kira tensi saya naik karena saya stres dan takut menjelang lahiran dan operasi, padahal saya tidak stres atau takut sama sekali, saya malah punya feeling ada yang tidak beres dengan badan saya. Bengkak dihampir seluruh bagian tubuh saya diikuti tensi yang tinggi membuat saya meyakini bahwa saya terkena preeklampsia walaupun saya belum cek kadar protein dalam urine saya untuk menegakkan diagnosa preeklampsia tersebut.
Akhirnya saya mengikuti arahan dokter untuk istirahat, benar-benar istirahat. Saya tidur seharian, dan ya setelah itu saya tensi ulang, dan hasil tensinya turun jadi 130/80. Oke, mungkin benar kata mereka saya hanya stres saja.
tiga hari sebelum jadwal operasi, saya kembali kontrol kehamilan. Disana tensi saya masih 130/80, dan berat badan saya sudah menyentuh angka 78 kg (yasalam..), akhirnya saya diminta untuk tes urine untuk mengecek apakah ada kebocoran protein diurine saya tersebut, untuk mencegah terjadinya preeklampsia. Sambil menunggu hasil tes urine tersebut, saya dan suami menyempatkan untuk makan dulu disalah satu mall dekat rumah sakit tersebut. Selesai makan, kami langsung menuju rumah skait kembali untuk mengambil hasilnya, dan puji syukur negatif.
Sehari sebelum jadwal operasi yang dijadwalkan hari selasa, saya harus masuk ke rumah sakit untuk persiapan operasi besok harinya. Rencananya sebelum menuju rumah sakit, saya dan suami ingin nonton film dulu dui bioskop dekat rumah kami, dan selesai itu baru ke rumah sakit. Tapi rencana kami gagal, karena ibu mertua saya berbaik hati untuk ikut mengantar saya ke rumah sakit hahahaha... Udah mau lahiran masih aja mau jalan-jalan...
Siang hari itu, saya menuju ke rumah sakit diantar oleh suami dan ibu mertua saya, dan sesampainya disana, ternyata kamar masih belum tersedia dan diminta datang lagi sore harinya. Sambil menunggu kamar tersedia, maka saya, suami, dan ibu mertua menyempatkan diri untuk cari makan diluar area rumah sakit, sambil janjian ketemuan dengan ayah mertua saya.
Setelah selesai makan, dan hari sudah mejelang malam, kami kembali ke rumah sakit dan ternyata kamar sudah tersedia. Kemudian suami menyelesaikan segala administrasinya dan saya segera menuju ke kamar rawat inap. Setelah mengantar saya ke kamar dan duduk-duduk sebentar, mertua saya pamit pulang, tinggallah sya dna suami berdua dikamar tersebut.
Malam itu, saya dicek CTG untuk melihat detak jantung bayi dan gerakannya, dan malam itu hasilnya anak saya terlihat sangat aktif, susternya sampai takut saya keburu kontraksi sebelum waktunya caesar nanti, apalagi melihat perut saya sudah turun dan sangat besar sekali.
Malam itu saya jadi susah tidur, rasanya campur aduk deh, nggak ngerti juga kenapa. Tengah malam akhirnya saya ketiduran, dan bangun pukul 03.30 pagi. Saya nervous.
Pukul 04.00 pagi saya mempersiapkan diri dan perlengkapan untuk persiapan operasi yang akan dilakukan pukul 06.00 pagi.
Pukul 05.00 pagi, saya dijemput suster untuk menuju ke ruang persiapan operasi. Disana saya ganti pakaian dengan pakaian yang telah disediakan, kemudian menunggu mereka mempersiapkan segala peralatan di ruang operasi.
Pukul 05.30 saya dimasukkan ke ruang operasi menggunakan bed dorong, suami tidak diperkenankan untuk masuk kedalam, jadi saya seorang diri menuju kesana. perasaan saya makin campur aduk deh, keinget operasi kemarin dan sedikit gugup karena sekarang saya akan dalam keadaan sadar, tidak seperti waktu laparotomi kemarin yang full gak sadar hehehe.
Setelah semua alat dipasang, terekamlah tensi saya yang tinggi dimonitor, 165/95 kalau tidak. Mereka bilang saya tegang karena pemasangan kateter dan suntik bius dipunggung, sehingga saya disuruh santai saja supaya tensi tidak naik. Tensi saya jadi turun naik antara 145-165.
Operasi tetap dijalankan. Proses awal sampai mengeluarkan bayi tidak lama, setelah pembedahan dilakukan dan perut saya ditekan-tekan, dan entah proses apalagi, tiba-tiba terdengarlah lengkingan tangisan bayi, suaranya nyaring sekali. bayi itu kemudian didekatkan dengan saya, dan saya disuruh mencium bayi tersebut.
Pada saat itu, saya seperti orang linglung, dan tidak merasa haru, sedih, atau bagaimana seperti yang diceritakan kebanyakan ibu-ibu lain. Saya hanya merasa too excited, bayi saya sudah keluar, bayi saya sudah dilahirkan, bayi yang saya bawa kemana-mana didalam kandungan saya selama 9 bulan sekarang sudah keluar, rasanya happy! hehehe.
Kemudian bayi diletakkan didada saya, untuk proses IMD, tapi... nggak ada air susu yang keluar, hiks... Salahnya saya, saya kurnag belajar soal ilmu ASI, saya tidka melakukan sesuatu sebelum melahirkan yang dapat memancing ASI keluar. Menyesal.
Setelah itu bayi dibersihkan dan dibawa dari ruang operasi tersebut. Kemudian luka saya mulai dijahit dan dibersihkan.
Setelah semua selesai, lalu saya dipindahkan ke ruang observasi untuk sementara waktu, dan jika tidak ada masalah, maka rencananya saya akan dikembalikan ke kamar rawat inap siang harinya.
Tunggu punya tunggu, akhirnya tibalah waktu untuk pindah keruangan rawat inap, namun sebelum itu tensi saya diukur ulang, dan ternyata.. masih tinggi. 165an. Diputuskan saya belum boleh keruang rawat inap. KEZEEELLLL...
Saya disuruh istirahat dan tidur, tidur, tidur, dan tidur, tidur terus, tapi berapa kali pun tensi saya tidak turun-turun. Akhirnya urine saya di tes ulang. Dan, hasilnya urine saya positif protein. Itu artinya, saya positif preeklampsia. Sh*t!
Bayi saya tidak bisa dibawa keruang observasi. Saya jadi merasa sedih sekali.
Malam itu, setelah semua keluarga dan penjenguk pulang, saya minta suami untuk melihat anak kami diruangan bayi dan agar anak saya difoto, karena saya rindu sekali.
Setelah suami kembali dari ruang perawatan anak, dna menunjukkan foto anak kami tersebut, asli saya jadi mewek banget huhuhu...
Tengah malam itu saya dipindahkan ke ruangan khusus untuk persiapan ibu yang mau melahirkan secara normal yang kebetulan kosong. Dan alat-alat yang dipasang dibadan saya tetap dipasang untuk terus memonitor tekanan darah saya, dan obat-obatan darah tinggi tidak berhenti dimasukkan kebadan saya, baik dari infus yang dipasang di dua tangan saya kanan dan kiri, maupun dari obat yang saya minum langsung.
Malam itu saya dan suami jadi sulit untuk tidur, rasanya campur aduk, apalagi dimonitor selalu terpampang tekanan darah saya yang tinggi terus menerus, mencapai 185/100.
Pagi harinya diputuskan untuk memindahkan saya ke ruang HCU untuk lebih dikontrol keadannya. Suram banget deh waktu itu rasanya. Diruangan itu gak boleh ditunggu siapapun, jadi suami dan ibu mertua hanya bisa menunggu di luar ruangan. Rasanya nggak enak banget, campur aduk banget perasaan rasanya, mana obat penurun tekanan darah bikin badan serasa demam dan panas. Bad situation.
Selanjutnya gimana???
Nanti kusambung lagi deh, karena postingan ini sudah terlalu panjang, jadi dibuat dua cerita terpisah sajalah menurutku.
Selanjutnya adalah...
Selanjutnya gimana???
Nanti kusambung lagi deh, karena postingan ini sudah terlalu panjang, jadi dibuat dua cerita terpisah sajalah menurutku.
Selanjutnya adalah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar